a

5 Penyebab Runtuhnya Giant dan Masa Depan Retail Indonesia

Enam gerai retail Giant, salah satu retail terbesar di Indonesia akan tutup di akhir Juli 2019. Banyak pihak yang menduga runtuhnya Giant dengan berbagai spekulasi terhadap ekonomi Indonesia. Kabar ini tentunya mengejutkan berbagai pihak di Indonesia.

Menurut informasi yang sudah beredar, terdapat enam gerai Giant yang akan tutup. Keenamnya berada di wilayah Jabodetabek. yakni Giant Express Cinere Mall Depok, Giant Express Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Giant Express Pondok Timur, Giant Exstra Jatimakmur, Giant Ekstra Wisma Asri, dan Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur Bekasi.

Kabar ini tentunya cukup mengagetkan dan mengejutkan banyak masyarakat yang bertanya-tanya. Mengapa retail sebesar Giant bisa roboh dan bangkrut. Tentunya ini menjadi tantangan bagi pihak-pihak terkait di Indonesia. Apa sih penyebabnya tutupnya enam retail Giant yang ada di Jabodetabek dan 26 toko fisik Giant lainnya di Indonesia sejak kuartal III 2018.

Persaingan

Tak khayal, banyak pihak yang mengatakan bahwa tutupnya gerai Giant dibeberapa titik karena persaingan yang cukup ketat pada bisnis retail di Indonesia. Saat ini memang persaingan retail cukup berat di Indonesia.

Tutupnya beberapa toko Giant murni karena disebabkan oleh persaingan yang semakin ketat. Sehingga membuat PT Hero Supermarket, Tbk (HERO) sebagai induk perusahaan Giant harus menutup beberapa toko fisik mereka untuk mengurangi beban perusahaan yang semakin tinggi.

Transformasi Bisnis

Dikutip dari Tempo.co, tutupnya enam retail Giant bukan disebabkan oleh bangkrutnya perusahaan. Melainkan karena Giant akan melakukan transformasi bisnis. Hal itu diungkapkan oleh Direktur PT Hero Supermarket, Hadrianus Wahyu Trikusumo. Transformasi yang dilakukan menyebabkan beberapa toko fisik harus di tutup.

Salah satu alasan transformasi bisnis dilakukan Giant, melihat dari pola belanja masyarakat yang sudah berubah. “Kami telah mengambil tindakan mengatur kembali dan re-energize Giant untuk memastikan dapat memenuhi preferensi pelanggan yang selalu berkembang,” kata Hadrianus.

Efisiensi

Penyebab lain tutupnya enam toko ritel Giant disebabkan oleh efisiensi yang dilakukan perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Tutum Rahanta, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), menanggapi penutupan retail yang identik dengan warna hijau kuning bahwa Giant melakukan efisiensi operasional.

“Mereka enggak tutup, mereka hanya efisiensi. Kalau bangkrut semua toko di Indonesia pasti tutup, engak hanya di Jabodetabek. Dan yang ditutup karena tidak bisa menutupi biaya operasional yang enggak bisa mendapatkan keuntungan,” ujar Tutum seperti dikutip dari Sindonews.com.

Pola Belanja

Ada beberapa pengamat yang mengatakan bahwa, robohnya Giant disebabkan oleh pola belanja masyarakat yang berubah. Seperti halnya pola belanja online. Namun hal itu dibantah oleh Aprindo dan Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA).

“Saya belum yakin e-commerce punya kontribusi signifikan untuk merebut pangsa pasar retail offline,” jelas Ignatius Untung, Ketua Umum idEA seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Data BPS menunjukan bahwa ada perlambatan pertumbuhan komponen makanan dan minuman selain restoran, dari 5,36% di 2017 menjadi 4,81% pada 2018. Sementara data dari PT Hero penjualan ritel makanan juga turun sekitar 7% dari Rp 11,7 triliun di 2016 menjadi Rp 10,85 triliun di 2017.

Kerugian

PT Hero Supermarket mengungkapkan bahwa mereka mengalami kerugian cukup signifikan beberapa tahun belakangan. Di tahun 2018 perusahaan merugi Rp 1,25 triliun sedangkan pada 2017 Hero rugi Rp 191 miliar. Meningkatnya kerugian disebabkan oleh biaya restrukturisasi di tahun 2018 sebesar Rp 1,38 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan di akhir Maret 2019, Hero Supermarket mengalami kerugian Rp 3,5 miliar. Meskipun jumlah tersebut turun dibandingkan di 2018 sebesar Rp 4,13 miliar.

Namun, disisi lain dari bisnis yang dimiliki PT Hero Supermarket dengan brand Guardian dan IKEA mengalami peningkatan. Bisnis non makanan Hero tumbuh signifikan dengan penjualan naik 21 % menjadi Rp 2,63 triliun.

Nasib Bisnis Retail Di Indonesia

Robohnya Giant atau tutupnya store Giant membuat banyak pengusaha bertanya mengenai masa depan bisnis retail di Indonesia. Apa lagi dalam dua tahun terakhir bukan hanya Giant yang menutup beberapa gerainya.

Kita bisa lihat bagaimana 7-Eleven yang harus hengkang dari Indonesia dan juga beberapa retail besar yang tutup. Belum lagi, cukup banyaknya mall-mall yang tutup beberapa tahun belakang, disinyalir disebabkan oleh tidak mampu menghadapi persaingan dan pola belanja masyarakat berubah.

Salah satu yang menanggapi lesunya bisnis retail adalah Chairul Tanjung, pemilik CT Corp yang juga memiliki beberapa toko retail modern di Indonesia dengan brand Transmart.

“Persaingan luar biasa. Saya katakan bahwa bisnis modelnya pun harus dirubah, jika tidak berubah pasti kalah. Dan apabila kalah mau engak mau harus tutup,” bebernya.

Sementara itu pihak Pemerintah melalui Kementerian Keuangan masih terus memantau perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap era digital kali ini. “Jadi dalam hal ini adanya ritel yang berubah bentuknya atau dalam hal ini, secara fisik tutup kemudian pindah ke online,” ungkap Sri Mulyani seperti di lansir dari Merdeka.com.

Hingga saat ini bisnis retail masih menjadi bisnis yang menjanjikan, diharapkan apa yang dialami oleh Giant, tidak lagi dialami oleh perusahaan-perusahaan serupa lainnya.

Share With:
Rate This Article