a

7 Ciri-Ciri Fintech Ilegal yang Patut Diwaspadai!

Sektor bisnis yang dikombinasi dengan kemajuan teknologi kini terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Seperti yang kita ketahui, terdapat bisnis berbasis e-commerce yang ramai beredar. Tak dipungkiri bahwa sektor lain pun akan menyusulnya, seperti financial technology atau fintech.

Saat ini jenis Fintech di Indonesia cukup beragam. Mulai dari yang memberikan layanan keuangan untuk personal maupun layanan pinjaman uang untuk modal. Dapat dikatakan dalam waktu kurang dari tiga tahun belakangan, industry fintech di Indonesia cukup pesat.

Sayangnya, industri baru ini masih banyak yang ilegal. Maksudnya belum terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Republik Indonesia. Anda wajib mengetahui ciri-ciri fintech ilegal karena dapat merugikan berbagai pihak, terutama pelaku bisnis.

Fintech sendiri merupakan inovasi teknologi keuangan yang dibuat dengan orientasi untuk memberikan kemudahan pada masyarakat guna mengakses hal-hal seputar keuangan. Misalnya seperti peminjaman uang, transaksi pembayaran, dan sebagainya.

Fitur-fitur yang ditawarkan oleh fintech ini tentunya akan sangat membantu para pebisnis. Mungkin ada sebagian dari Anda yang masih merasa awam dengan industri ini. Tapi bagi Anda yang sudah tahu bahkan pernah menggunakannya, tingkatkanlah kewaspadaan karena adanya fintech ilegal.

7 Ciri-Ciri Fintech Ilegal yang Meresahkan

Supaya Anda tidak terlanjur dirugikan, sebaiknya simak ciri-ciri fintech ilegal berikut ini :

1. Sistem Kantor dan Lokasi yang Tidak Jelas

Hal pertama yang perlu Anda waspadai ketika ingin melakukan transaksi keuangan dengan fintech adalah lokasi dan seperti apa sistem yang digunakan. Bila lokasi kantornya saja sudah tidak jelas keberadaannya, maka jangan lanjutkan transaksi dengan pihak tersebut.

Apalagi ketika mengetahui ada sistem yang tidak beres. Segera tinggalkan saja dan carilah fintech yang lebih terpercaya.

2. Ketentuan Syarat dan Prosedur Peminjaman yang Mudah

Selanjutnya adalah amati juga seperti apa syarat-syarat dan prosedur yang fintech berikan kepada Anda untuk peminjaman uang. Biasanya proses peminjaman uang di bank konvensional atau kantor finance lainnya lebih panjang dan agak rumit.

Mereka akan memberikan syarat yang banyak untuk dilengkapi. Tapi, bila Anda menjumpai fintech yang mengajukan syarat dan prosedur mudah, jangan langsung percaya. Siapa tahu cara tersebut dilakukan untuk membuat Anda terperangkap jebakannya.

3. Tingkat Suku Bunga Terlampau Tinggi

Ciri-ciri fintech ilegal berikutnya juga bisa dikenali dari tingkat suku bunga yang ditetapkan. Saat Anda merasa fintech yang Anda gunakan menetapkan tingkat suku bunga yang tidak masuk akal, maka patut dicurigai.

Apalagi bila akumulasinya dihitung per hari.Sebaiknya Anda mencari tahu dulu reputasi fintech tersebut sebelum melakukan transaksi dengannya.

4. Memindah Seluruh atau Sebagian File dari Handphone

Tindakan seperti ini jelas menyalahi privasi dan Anda bisa melaporkannya ke pihak berwajib. Pihak fintech tidak berhak menyalin maupun memindah sebagian atau seluruh data dari smartphone Anda. Upayakan selalu handphone Anda dalam keadaan aman dan terlindungi dari segala ancaman seperti hacking.

5. Penagihan yang Dilakukan Dengan Cara Tidak Baik

Cara tidak baik dalam hal ini adalah penagihan yang mengintimidasi, bahkan mempermalukan Anda ke nomor-nomor telepon lain yang telah disalinnya. Anda tahu cara kerja rentenir kan? Bila pihak fintech melakukan ancaman seperti ini, maka dapat dipastikan bahwa industri tersebut tidak bekerja secara profesional.

6. Laporan Jumlah Tagihan yang Tidak Transparan

Anda juga bisa mendeteksi fintech ilegal yang tidak mampu memberikan laporan jumlah tagihan secara transparan. Pihaknya berusaha mengalihkan pembicaraan dan perhatian Anda, serta terlalu banyak alasan. Padahal informasi tagihan ini perlu disampaikan dengan benar agar pembayaran berjalan dengan lancar.

7. Pihak Direksi yang Mempunyai Reputasi Bermasalah

Ciri-ciri fintech ilegal terakhir yang bisa diketahui adalah seputar reputasi jajaran direksinya. Biasanya fintech yang legal harus mempunyai sertifikat memimpin bisnis Peer to peer (P2P), tapi fintech ilegal direksinya hanya menyerahkan daftar riwayat hidup saja. Tidak ada jaminan yang menunjukkan bahwa fintech tersebut dapat dipercaya.

Dari Satgas Waspada Investasi OJK merilis bahwa kurang lebih ada 227 perusahaan fintech dengan status ilegal. Sedangkan yang sudah mendaftarkan diri hanya sebanyak 63 perusahaan. Kebanyakan fintech ilegal ini asalnya dari negeri China.

Oleh karena itu, bila Anda menemukan fintech yang mengiming-imingi investasi mudah dengan keuntungan tinggi, jangan mudah tergoda. Periksa terlebih dahulu asal usulnya. Jangan sampai diri Anda terjebak dan menjadi korban penipuan fintech ilegal.

Pahami ciri-ciri fintech ilegal di atas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.Namun, bukan berarti fintech merupakan entitas yang tidak aman. Fintech legal akan terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga keamanannya terjamin.

Share With:
Rate This Article