a

Abis PHK, Bukalapak Dapat Dana Segar dari Investor!

Sobat UKM pasti tahu soal berita perusahaan e-commerce terkenal Indonesia Bukalapak yang baru saja melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal kepada sekitar 100 karyawan. Namun setelah itu, Bukalapak dapat dana segar dari investor asal negeri Gingseng.

Kejadian ini tentu membuat berbagai kalangan terkejut. Karena seperti yang kita tahu bahwa bisnis pada industri digital sedang mangalami geliat antusiasme yang tinggi. Baik dari masyarakat sebagai konsumen, maupun dari sisi investor sebagai penyuntik dana.

Tidak berhenti di situ, kini kegiatan bisnis pada perusahaan Bukalapak kembali tersorot. Baru – baru ini, mereka dikabarkan mendapatkan suntikan dana besar sebanyak 35 Triliun atau US$2,5 Miliar. Penyuntik dana tersebut berasal dari sebuah Bank Group asal Korea Selatan yaitu Shinhan Financial Group.

Apa Kaitannya?

Jadi, apakah kaitannya antara PHK massa yang dilakukan sebelumnya dengan suntikan dana yang diterima oleh Bukalapak? Mungkin ngga Bukalapak yang sebelumnya terpuruk hingga harus melakukan PHK massa, kini sedang bangkit melalui suntikan dana segar?

Pihak Bukalapak akhirnya ikut memberikan pernyataan mengenai suntikan dana yang dilakukan oleh perusahaan Group Bank asal Korea Selatan tersebut. “Tidak spesifik (penggunaan dana) sesuai yang disampaikan saja. Kita fokus ke arah sustainability dan kita tidak mengubah itu,” kata Co-Founder dan President Bukalapak Fajrin Rasyid.

Meski perusahaan Bukalapak telah memperoleh penyuntikan dana modal yang berasal dari perusahaan perbankan, Fajrin menegaskan bahwa tidak ada yang berubah pada bisnis inti Bukalapak. Bukalapak tetap berkonsep e-commerce, namun tidak memungkiri bahwa Bukalapak memberikan jasa keuangan pada konsumen meskipun dalam skala kecil.

“Sekarang sudah ke arah sana ya. Kita mulai dari fintech. Kita ada produk-produk investasi dan sebagainya, jadi memang itu menjadi lini bisnis Bukalapak sekarang,” jelas dia.

Beberapa pandangan untuk mereka mengenai prospek bisnis peer to peer lending (P2P). Fajrin Rasyid mengungapkan Bukalapak sendiri telah memiliki bisnis bidang tersebut dengan nama Bukamodal, yang telah menjalin bisnis kerja sama dengan fintech dan perbankan.

“P2P kita ada yang namanya Bukamodal. Tadi kita bekerja sama dengan bank dan fintech,” jelas Fajrin Rasyid.

Sempat Hilang Di Play Store

Bukalapak beberapa saat yang lalu, tepatnya pada bulan September 2019, sempat kembali menjadi bahan perbincangan. Hal ini disebabkan aplikasi Bukalapak yang sempat menghilang dari peredaran Google Play Store.

Tentu banyak spekulasi beredar saat itu, namun Achmad Zaky memberikan penjelasan tegas mengenai hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa Bukalapak menghilang pada Google Play Store dikarenakan sedang mengalami pembaharuan sistem.

Perwakilan Bukalapak yang diwakili Head of Corporate Communications Bukalapak, Intan Wibisono mengatakan hilangnya aplikasi mereka dari Google Store tidak akan memberikan dampak buruk terhadap proses transaksi seluruh Indonesia yang tengah berjalan.

Perusahaan Bukalapak sendiri dikenal sebagai perusahaan yang menjalankan sistem ecommerce dan memanfaatkan keberadaan unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau biasa disebut dengan UMKM Indonesia.

Berbagai strategi mereka lancarkan untuk mencapai tujuan, salah satu usaha yang dilakukan untuk memperluas jaringan layanannya adalah berbagai campaign marketing yang tak kalah bersaing dengan e-commerce lainnya. Bahkan, CEO Bukalapak Achmad Zaky mengklaim ada 4 juta ‘pelapak’ yang aktif berjualan di situs Bukalapak dan mayoritas mereka adalah pelaku UMKM Indonesia.

Kehadiran Bukalapak juga memberikan pendampingan, seperti membantu pebisnis UMKM sebagai agen Bukalapak untuk lebih aktif memasarkan barang dagangannya. Kehadiran Bukalapak sebagai salah satu unicorn asal Indonesia, akhirnya membuat Bukalapak berhasil mendapat berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, seperti Top 50 Most Valuable.

Share With:
Rate This Article
Tags