a

Beda Banget! Sandi Pranata Lebih Milih Bisnis Peternakan Dibandingkan Start Up

Hampir semua anak muda memiliki impian untuk memiliki bisnis sendiri. Tetapi tidak memiliki ide untuk memulai bisnis. Padahal, banyak bisnis yang bisa segera dijalankan. Anak muda memang sangat suka dengan bisnis yang sedang tren, lihat saja kedai kopi atau bisnis start up. Rata-rata dikelola oleh anak muda. Namun beda dengan Sandi Pranata, pebisnis muda di bisnis peternakan.

Nama Sandi Pranata mungkin belum terlalu tenar. Sandi merupakan seorang pemuda berusia 33 tahun yang senang dengan bisnis yang jarang dilirik oleh anak muda lain. Ia ternyata lebih memilih jalan yang berbeda dibandingkan pebisnis milenial pada umumnya.

Anak muda zaman sekarang lebih suka bisnis kopi, café, dan start up. Bisnis kekinian, mereka enggan melihat bisnis yang dianggap telah usang, seperti yang dijalankan oleh Sandi.

Banyak bisnis konvensional yang dianggap sebagian anak muda sudah tak cocok bagi kalangan milenial. Tetapi masih memiliki potensi yang besar. Salah satunya bisnis ternak ayam ras pedaging yang cukup potensial dengan keuntungan yang menjanjikan. Seperti yang dijalankan oleh Sandi Pranata asal Indramayu ini.

Peternak Milenial

Menjadi peternak, mungkin akan dianggap sebagai profesi yang cocok untuk orang tua. Tetapi stereotip tersebut dibantah oleh Sandi Pranata, Sang anak muda kelahiran 1986. Sandi menjadi salah satu anak milenial yang mampu melihat peluang besar dari bisnis peternakan ayam ras pedaging.

Peternakan, pertanian, dan perikanan mungkin bukan tidak masuk dalam minat bahkan ide bagi anak-anak milenial untuk berbisnis. Banyak anak muda yang melihat ketiga bisnis ini bukanlah bisnis yang potensial. Hingga mereka mengabaikan bisnis dari bidang peternakan.

Termasuk Sandi, awal-awal ditawari bisnis peternakan ia berkata. “Orang tua saya sering bilang, kalau bisnis ayam itu bagus. Saya anggap itu seperti angin lalu saja,” terang Sandi seperti dikutip dari poultryindonesia.com. Awalnya Sandi juga menganggap omongan dari sang orang tua dianggap sebelah mata saja dan tetap fokus pada bisnis lainnya.

Bisnis Unggas Sangat Potensial

Seiring berjalannya waktu, Sandi pun bertemu dengan kolega-kolega bisnisnya. Sang kolega pun membicarakan mengenai bisnis peternakan, salah satunya bisnis peternakan ayam ras pedaging. Membuat pikiran Sandi terusik dengan omongan-omongan mengenai bisnis unggas.

Akhirnya Sandi bertemu dengan teman yang sudah menjalani bisnis peternakan. Teman tersebut berbagi kisah dan ilmu kepada Sandi mengenai bisnis peternakan ini. Hingga akhirnya Sandi tertarik untuk menjalankan bisnis unggas hingga dia mencoba bisnis peternakan.

Dan akhirnya apa yang dikatakan oleh kedua orang tua dan teman-temannya sesuai dengan ekspektasi Sandi. Sehingga membuat dia memilih bisnis peternakan ayam ras pedaging sebagai salah satu bisnis yang ia tekuni saat ini.

Banyak Tantangan

Meskipun memiliki ekspektasi yang tinggi dari bisnis ayam ras pedaging. Bukan berarti bisnis ini tidak memiliki risiko dan tantangan. Sandi bercerita bahwa ras ayam pedaging sudah cukup mudah, karena ayam ras pedaging memiliki peminat yang tinggi.

Namun untuk bisnis yang satu ini, harus merogoh kocek yang dalam. Seperti membangun kandang, peralatan, hingga membeli lahan jika tidak memiliki lahan. Bahkan investasi yang tinggi ini sempat membuat Sandi merasa ragu akan bisnis ini.

“Kalau saya tidak melihat prospeknya, saya juga tidak akan maju karena modalnya itu cukup besar. Tapi prospek jangka panjangnya itu memang bagus, makanya kenapa saya berani mencoba,” terang Sandi.

Selain modal yang cukup besar, pencarian lokasi dan izin pun masih cukup sulit. Lahan yang digunakan areal peternakan harus sesuai dengan peraturan izin dan zonasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat. Jika lokasi tidak tepat, bisa menimbulkan gesekan antar warga.

Bisnis yang Paling Stabil

Namun dibalik kesukaran tersebut, Sandi berencana untuk melakukan ekspansi lagi dengan menambah populasi ayam. Ia menganggap bisnis ayam ras pedaging ini lebih stabil dibandingkan dengan bisnis lainnya.

“Kenalan saya itu banyak dan dari latar belakang yang berbeda-beda. Dengan kondisi perekonomian seperti saat ini, beberapa rekan saya ada yang benar-benar kolaps. Sedangkan bisnis ini sudah saya alami memang stabil. Sebab, mau bagaimanapun orang Indonesia sangat senang makan ayam,” jelasnya.

Sandi mengatakan, kalau saat ini banyak generasi milenial yang malu dalam berbisnis ayam. Mereka lebih memilih untuk kerja di kantoran. Jika Sandi tidak masalah berbisnis apapun, asalkan bisnis tersebut bisa menghasilkan uang.

Generasi milenial memang perlu mendapatkan motivasi untuk mau memulai bisnis di dunia agribisnis. Sebab, pangan menjadi kebutuhan utama manusia di muka bumi ini. Sehingga kemauan generasi milenial di bidang agribisnis harus ditingkatkan.

Share With:
Rate This Article