a

Bukalapak PHK Massal, Bisnis E-Commerce Suram?

Berita menggemparkan datang dari salah satu perusahan E-Commerce Bukalapak yang sering kali menduduki peringkat utama dan sekaligus perusahaan berlabel Unicorn Indonesia. Mereka melakukan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal, yaitu lebih dari 100 karyawan. Kenapa Bukalapak PHK Massal? Ada apa dengan kondisi keuangannya?

Keputusan ini diambil dengan alasan efisiensi dan Bukalapak yang ingin mengejar profit. Hal ini tentu mengejutkan banyak pihak karena Bukalapak merupakan Startup E-commerce yang menyandang label Unicorn.

Berbagai spekulasi dan keheranan muncul. Apa alasan Bukalapak melakukan pemangkasan sebanyak ratusan karyawan? Bagaimana bisa sebuah perusahaan berlabel Unicorn mengalami ketidak sehatan finansial hingga harus melakukan efisiensi?

Pekerja yang dirumahkan oleh Bukalapak kurang lebih 100 dari total 2.600 karyawan. Itu artinya, total PHK yang dilakukan kurang dari 10% sehingga menurut pihak Bukalapak, angka itu terbilang tidak fantastis. “Banyak yang sudah kami sampaikan. Terkait jumlah karyawan (di-PHK) nggak nyampe 10 persen,” ujar Presiden Bukalapak Fajrin Rasyid.

Rangka Efisiensi

Langkah PHK tersebut dilakukan Bukalapak untuk memangkas serta dalam rangka efisiensi serta arah Bukalapak yang ingin menuju profit alias tahap Break Even Point (BEP). Bukalapak berniat menjadi perusahaan Startup pertama yang mendulang untung BEP.

Achmad Zaky menjelaskan bahwa langkah PHK dilakukan setelah mempertimbangkan berbagai aspek. Seperti pendapatan Bukalapak sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA/earnings before interest, taxes, depreciation and amortization). Membuat Bukalapak harus melakukan hal yang tidak di inginkan 

“Pada saat ini kami sudah memiliki modal yang cukup dari para pemegang saham untuk meraih EBITDA positif, tentunya apabila semua rencana kami berjalan lancar tanpa halangan,” ujar Achmad Zaky dikutip melalui Detik.com.

Bukalapak melakukan PHK di berbagai devisi. Teddy Oetomo sebagai Chief Strategy Officer (CSO) Bukalapak, memberikan penjelasan bahwa lagkah PHK ratusan karyawan tidak emmiliki keterkaitan dengan dengan kinerja perusahaan, namun dikarenakan kesulitan pendanaan dari startup asal Amerika Serikat seperti Uber, Lyft dan WeWork yang berdampak besar pada keputusan PHK.

Tidak Lagi Fokus Tumbuh

“Fokus kami bukan lagi pertumbuhan tetapi membangun perusahaan yang berkelanjutan,” ujar Teddy Oetomo seperti dikutip melalui Nikkei Asia Review.

Teddy Oetomo pun menjelaskan bahwa akan selalu ada kemungkinan untuk Bukalapak mengumpulkan lebih banyak dana dari investor baru atau investor eksisiting untuk mempertahankan karyawan yang ada, namun opsi tersebut bukan merupakan langkah yang tepat itu dan tentu akan menyulitkan di jangka panjang.

“Secara potensial, akan ada waktu – saya tidak tahu kapan – uang murah itu mungkin berhenti mengalir, kami tidak bisa mengendalikan itu.” Tambahnya.

Seorang analisis pasar senior OANDA asal Singapura bernama Jeffrey Halley pun menelah fenomena tersebut. Menurutnya, terjadi sebuah pola terbaca yang dilakukan oleh para investor secara global. Mereka sudah mulai meragukan nilai valuasi Stratup yang diberi suntikan dana oleh mereka. Investor ingin melihat bagaimana perusahan mulai memberikan arah profit, sehingga tidak hanya berfokus pada perkembangan bisnis mereka.

“[Para] unicorn harus menghadapi kenyataan menjalankan bisnis yang tidak menguntungkan dengan kedok ‘ekspansi’ alih-alih menguangkan akan jauh lebih sulit untuk dicapai di tahun 2020 yang lebih keras,” terang Jeffrey Halley.

Hal senada juga diungkapkan oleh investor lain. Co-founder sekaligus managing partner dari salah satu perusahaan investor, Ideosource, Edward Ismawan berpendapat bahwa keputusan untuk memangkas ratusan karyawan Bukalapak bukan hal yang salah. Sebaliknya, Edward justru menilai langkah tersebut bisa membantu Bukalapak meningkatkan pendapatan.

“Kalau kita lihat strateginya Bukalapak sendiri sebetulnya tidak ada yang salah, ya. Mereka cukup bagus untuk mencoba, sebetulnya bisa sangat membantu untuk masa depannya Bukalapak juga,” kata Edward. (Marsha)

Share With:
Rate This Article