a

Gimana Nasib Fintech Syariah di Indonesia?

Sobat UKM yang namanya berbisnis kadang kita sering membutuhkan suntikan dana tambahan, ya? Di beberapa hal, kebutuhan untuk mendapat dana tambahan sering tidak bisa kita hindari. Nah, semakin berkembangnya zaman, pilihan – pilihan lembaga yang bisa memberikan fasilitas peminjaman dana untuk bisnis UKM Indonesia semakin banyak. Seperti Fintech Syariah di Indonesia.

Dalam memilih fintech untuk mendanai bisnis kita, sekiranya Sobat UKM perlu berhati – hati, karena masih banyak fintech yang belum resmi terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sehingga Sobat UKM sebagai konsumen tidak bisa terlindungi oleh hukum.

Saat ini Fintech Syariah sedang tumbuh pesat. Dibuktikan dengan semakin banyak jumlah fintech syariah di Indonesia yang meramaikan industri keuangan. Hal itu, dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan jumlah pengguna internet yang melimpah di Indonesia.

Fintech syariah sendiri di Indonesia yang terdaftar adalah sebanyak  9 perusahaan dan resmi terdata oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Angka menunjukan bahwa 90% dari lembaga fintech syariah memberikan pembiayaan untuk sektor – sektor produktif. Pertumbuhan fintech syariah di sektor produktif ini didorong oleh minat investor yang cukup tinggi.

Dima Djani, Founder & CEO Alami Fintech mendeskripsikan, pembiayaan peer-to-peer financing syariah memiliki keunggulan lebih dari segi kepastian, keamanan serta risiko investasi yang cenderung lebih rendah, dibandingkan return instrumen reksa dana per tahun, mengingat return investasi reksa dana yang fluktuatif karena dipengaruhi oleh kinerja pasar.

“Dengan modal atau biaya investasi yang relatif kecil, ALAMI memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan. Mulai dari rata-rata imbal hasil sebesar 14%-16% tergantung pada hasil credit scoring, sampai tenor yang relatif lebih singkat dibandingkan dari deposito yaitu 1 sampai 6 bulan,” jelas Dima dikutip melalui SWA.

“Ketika berbicara mengenai syariah, memang akan membahas tentang Islam. Namun yang harus digarisbawahi adalah syariah mengacu pada prinsip kemitraan, keadilan, kemanfaatan, keseimbangan, serta keuniversalan. Sehingga sangat terbuka bagi masyarakat luas dan tak terbatas pada golongan tertentu,” tambahnya.

Dengan memiliki target market para pebisnis UKM Indonesia, saat ini Alami fintech telah memiliki lebih dari 30 UKM yang dengan aktif di danai. Total dana yang disuntikkan pun mendekati angka Rp 30 miliar. Angka tersebut diharap aka meningkat hingga akhir tahun ini, dengan target pembiayaan menyentuh Rp 80 miliar.

Pertumbuhan fintech syariah pada area produktif tersebut dipicu oleh keinginan investor yang cukup tinggi. Menurut Tiar Karbala, CEO TN Kapital, industri fintech syariah di Indonesia memiliki potensi bisnis menjanjikan dan memiliki dampak bagi percepatan ekonomi Indonesia. Dikutip melalui SWA, selain berpotensi memperoleh margin yang besar dari sisi bisnis, pembiayaan ini memberikan dampak positif untuk sosial.

Tantangan Fintech Syariah Di Indonesia

Cukup banyak tantangan bagi fintech syariah di Indonesia. Fintech merupakan sesuatu yang masih baru bagi masyarakat Indonesia. Meskipun sudah banyak fintech berbentuk konvensional, namun belum banyak masyarakat yang mengenal. Serta masih adanya beberapa aturan yang belum matang dari regulator, yakni Pemerintah.

Literasi Keuangan Masyarakat Rendah

Masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang melek terhadap literasi keuangan. Padahal ini akan melindungi masyarakat dari transaksi-transaksi palsu yang merugikan. Ada hal yang perlu dilakukan oleh para fintech syariah, yakni dengan meningkatkan keterampilan dan keyakinan masyarakat terhadap layanan keuangan.

Syarat dan Infrastruktur Kurang Menunjang

Hambatan yang saat ini dialami oleh fintech syariah adalah keharusan memiliki Dewan Pengawas syariah atau DPS di setiap Start Up Fintech. Keharusan ini tentunya cukup memberatkan beberapa start up fintech, karena modal yang mereka miliki masih terbatas.

Beberapa fintech menyarankan Pemerintah, untuk memberikan keluluasaan, satu dewan pengawas membawahi beberapa perusahaan fintech yang belum terdaftar. Ini dilakukan agar fintech syariah yang belum terdaftar mendapatkan infrastruktur yang sesuai regulasi OJK

Belum Ada Kebijakan Matang

Tantangan fintech syariah terakhir adalah kebijakan yang dibuat belum mencakup kepada keamanan nasabah. Jasa keuangan mampu mesejahterahkan keuangan masyarakat jika dikelola dengan baik. Pengelolaan yang baik tentunya memerlukan kebijakan yang matang.

Kebijakan yang dimaksud semacam syarat pendirian dan operasi fintech, inovasi layanan yang aman bagi nasabah, serta kompetisi yang sehat. Penyelenggara fintech juga harus memastikan kepentingan nasabah, keamanan dana public, keamanan data public, serta mampu mengatur keuangan masyarakat dengan memberikan bunga yang wajar.

Saat ini Fintech Syariah di Indonesia masih dalam tahap berkembang dan baru ada 9 fintech yang terdaftar di OJK yakni :

  1. Amanna
  2. Alami Sharia
  3. Investree Syariah
  4. Dana Syariah
  5. Danakoo Syariah
  6. Qazwa
  7. Duha Syariah
  8. Syarfi
  9. Bsalam

Kesembilan fintech tersebut merupakan fintech yang saat ini terdaftar di OJK. Sehingga Anda bisa mencari tahu fintech apa saja yang terdaftar di OJK dan tidak perlu takut untuk meminjam di Fintech tersebut. (IRL)

Share With:
Rate This Article