a

Harga Rokok Naik, Gimana Efek Bisnisnya?

Tahukah Sobat UKM bahwa harga rokok di Indonesia akan naik mulai 1 Januari 2020? Imbas dari kenaikan harga cukai rokok sebesar 23%, dan juga konsekuensi dari kenaikan inflasi. Harga Jual Eceran (HJE) pun akan mengalami kenaikan hingga 35%. Berarti, dalam hitungan kasar, rokok yang mulanya berharga Rp. 23.000/bungkus, akan dibandrol sebesar Rp. 31.050.

Peraturan pemerintah mengenai kenaikan tarif cukai rokok ini dilakukan untuk mengurangi konsumsi rokok yang selalu  meningkat di kalangan remaja, hingga anak – anak.

Dikutip melalui CNBC Indonesia, data Kementerian Keuangan bahwa angka perokok pada kalangan remaja dan anak – anak mengalami peningkatan dari angka 7% menjadi 9%. Bahkan angka perokok di kalangan perempuan naik dari 2,5% jadi 4,8%.

Data internasional yang dikeluarkan oleh WorldAtlas menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu pangsa pasar rokok terbesar di dunia. Data tersebut menyebutkan bahwa Indonesia, menduduki peringkat ke-6 sebagai negara dengan populasi perokok terbesar di dunia.

Sebuah riset ‘kasar’ pun dilakukan pada sample masyarakat mengenai kebijakan ini. Dikutip melalui Bisnis.com, seorang perokok aktif yang bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta, Ricky mengaku terbiasa mengonsumsi satu bungkus rokok per hari dengan harga Rp. 23.000 / bungkus. Ia mengaku bahwa kenaikan harga jual eceran rokok sebanyak 35% tidak terlalu berdampak.

 “Kalau saya pendapatannya masih seperti sekarang, harga rokok sebungkus Rp31.050 masih wajar. Mungkin kalau sudah tidak ada duit lagi, saya akan berganti ke merek rokok yang lebih murah,” jelasnya.

Ricky menambahkan, dengan penghasilan yang dimilikinya, harga sebungkus rokok yang dikonsumsinya setiap hari kurang lebih  Rp. 25.000, sehingga dengan nominal harga baru rokok, Ricky tidak merasa perlu untuk mengurangi konsumsi rokok setiap harinya.

Namun dengan harga baru ini, diharapkan konsumsi rokok dapat berkurang drastis dikonsumsi dari remaja dan anak – anak, bahkan bisa pula menyasar perokok pemula sesuai dengan tujuan awal pemerintah.

Harga yang ditetapkan tersebut sebenarnya tergolong rendah jika dibandingan beberapa negara lain seperti Singapura yang jika dirupiahkan, setiap bungkusnya dapat mencapai Rp. 100.000 bahkan lebih.

Bagaimana Bisnis Rokok Di Indonesia

Jika melihat pendapat sample, kenaikan harga rokok memang tidak berubah drastis dan kebiasaan merokok oranng Indonesia tidak semudah itu akan dirubah, bukan? Hal ini kemungkinan besar tidak berdampak besar terhadap bisnis rokok di Indonesia.

Tentu sebagai pebisnis, kita diharap ikut membantu tujuan pemerintah dengan tidak membiarkan konsumen remaja dan anak – anak merokok. Sehingga ada batasan untuk membeli rokok dengan cara tidak memperbolehkan pembelian dilakukan oleh remaja dan anak – anak.

Namun beda pendapat dikemukakan oleh Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (GARPINDO). Mereka beranggapan dengan naiknya harga rokok, mereka akan semakin terbatasi ruang gerak untuk menciptakan inovasi agar industri bisnis rokok semakin hidup.

Ketua Gaprindo, Muhaimin Moeftie menilai dengan adanya kenaikan harga rokok, akan memancing tumbuhnya rokok ilegal pada pasar Indonesia. Kecurigaan ini bukan tanpa dasar, karena sudah terjadi di negara tetangga Malaysia ketika pemerintah menaikkan cukai rokok sekitar 43 persen pada tahun 2015. Hal ini berimbas pada tumbuhnya fenomena rokok ilegal. Munculnya rokok ilagal tersebut pun meningkat drastis menjadi sekitar 60 persen.

Gaprindo mengklaim industri rokok Indonesia mengalami tren stagnan, bahkan cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya itu, pasar pun kian sensitif terhadap harga rokok.

“Kami ingin pemerintah selalu membuka pintu diskusi saat menetapkan kebijakan cukai tahun 2020 dan bersikap transparan kepada kami sebagai pelaku industri karena kenaikan cukai sebesar 23 persen dan HJE 35 persen sangat memberatkan dan terlalu tinggi,” ungkap Muhaimin dikutip melalui CNN Indonesia. (Rumi)

Share With:
Rate This Article