a

Konsep ‘Pay Later’, Untung atau Buntung?

Saat dulu, beberapa masyarakat masih memiliki pemikiran untuk menghindari hutang. Berbagai alasan muncul menjadi penyebab mereka takut berhutang seperti takut akan sulit membayar, takut mendapat bunga yang tinggi, sampai takut tidak bisa mengelola keuangan dengan hemat. Namun semakin lama semakin berjalan, banyak pihak yang justru menawarkan secara terus – menerus agar berhutang dengan lebih mudah dengan konsep pay later.

Masyarakat perlahan mulai kehilangan rasa takut akan berhutang, justru merasa senang atas kemudahan – kemudahan meminjam dana kilat. Salah satu sistem hutang yang sedang gencar diiklankan dan menarik banyak pihak adalah konsep ‘Pay Later’.  Para startup berlomba-lomba menawarkan fitur Pay Later atau bayar kemudian. Layanan ini diberikan untuk memudahkan pengguna dalam bertransaksi. Kali ini SolusiUKM akan membahas metode satu ini.

Apa sih Pay Later

Konsep pay later tersebut digadangkan oleh perusahaan digital dengan sistem yang sebenarnya tidak asing lagi. Metode pay later pembayaran seperti kartu kredit yang mana perusahaan aplikasi menalangi dulu pembayaran tagihan pengguna di merchant setelahnya pengguna membayar tagihan tersebut kepada perusahaan aplikasi.

Untuk bisa menggunakan layanan ini setiap digital startup menerapkan peraturan yang berbeda – beda, seperti contohnya pengguna akan diminta memberikan data pribadi, foto diri dan foto KTP.

Belakangan ini, layanan pay later memang sangat populer di sejumlah perusahaan aplikasi. Tak hanya Traveloka, aplikasi besar lainnya juga ikut menghadirkan layanan berutang itu, di antaranya seperti Go-Jek dan OVO.

Dikutip melalui Tirto, pihak manajemen Go-Jek mengaku respon pengguna aplikasi Go-Jek terhadap layanan pay later sangat tinggi. Hal tersebut tampak dari jumlah pengguna layanan pay later pada Go-jek hingga saat ini terus bertambah. Peningkatannya yang sangat tinggi tersebut semakin didukung dengan pelebaran fitur Go-Jek. Dulu, konsep pay later baru bisa digunakan pada fitur Gofood saja. Namun sekarang sudah bisa dipakai untuk ride, deals, pulsa, Go-tix dan lain sebagainya.

Apalagi, pihak penyedia pay later semakin dibalut dengan kemasan menarik. Contohnya, untuk mendapatkan layanan pay later ini, langkah yang harus ditempuh pengguna sangat mudah dan cepat. Prosesnya pun singkat, dapat dilakukan langsung pada ponsel pintar masing-masing pengguna.

Apa Komentar Para Pengguna?

Seorang pengguna bernama Dea, yang bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta, mengaku mengandalkan pay later untuk membeli tiket pesawat, menyewa hotel, dan membeli voucher makanan. Sejauh ini, akun pay laternya sudah memiliki limit Rp3,8 juta. “Aku enggak ngeh sih bunga per bulannya berapa persen,” ujarnya, dikutip melalui Bisnis.com.

Salah satu alasannya tertarik menggunakan fitur pay later karena promo potongan harga khusus yang sangat menggiurkan. Salah satunya, ketika ia membeli tiket pesawat senilai Rp3 juta, dengan menggunakan pay later, Dea mampu mendapatkan diskon 40% sehingga yang bayar Rp. 1,8 juta. Dari total tagihan, aku dapat biaya sekitar Rp50.000 per bulan,” ujarnya.

Dea pun cenderung memilih tenor jangka pendek untuk menggunakan pay later. “Soalnya, kalau tenornya sampai 6 bulan, diskonnya jadi enggak berasa karena biaya Rp50.000 per bulan tersebut,” ujarnya.

Meskipun begitu, Dea mengakui, keberadaan pay later ada sisi negatifnya, yakni menjadi lebih konsumtif.

“Gara-gara pay later, aku jadi suka tergoda beli sesuatu karena harganya murah. Biasanya, paling gampang tergoda untuk membeli voucher makanan sih,” ujarnya.

Sejauh ini, Dea mengaku transaksi tertinggi yang dilakukan dengan pay later senilai Rp3,2 juta untuk membeli tiket pesawat.

Share With:
Rate This Article