a

Lagi Musim Bahas Gig Economy, Apaan tuh?

Sobat UKM berasa enggak kalau akhir-akhir ini sering banget ada pembahasan mengenai ‘Gig Economy’? Wah, istilah baru apa lagi ini? Jangan panik, di artikel ini, SolusiUKM akan bahas mengenai apa sih definisi Gig Economy dan hubungannya sama pebisnis Indonesia.

Apa Itu Gig Economy?

Gig Economy sendiri adalah sebuah tren yang menjadi topik pembahasan karena sekarang konsepnya banyak diadopsi oleh masyarakat terutama pekerja muda. Definisi Gig economy, yaitu mereka yang bekerja tanpa ikatan jangan waktu lama, dan bisa mengambil banyak pekerjaan pada waktu yang sama. Konsepnya memang sangat mirip dengan pekerja lepas atau freelance, namun dengan modifikasi cabang yang lebih modern.

Pada dasarnya mereka memiliki pemikiran yang menjauhi sistem bekerja konvensional, pukul 9 pagi hingga 5 sore, dan hanya untuk satu perusahaan saja. Sebaliknya, mereka pekerja muda penganut Gig Economy bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu, sesuai tenggat waktu yang disepakati, dan bekerja dapat di mana saja. Terdengar sangat menyenangkan, ya?

Contoh Profesi Gig Economy

Beberapa pekerjaan kekinian yang masuk ke ranah Gig Economy contohnya adalah Selebgram, Influencer, Konsultan Agensi, dan lain-lain. Mereka memilih merdeka dalam menentukan pekerjaan mana yang mau diambil, mana yang mau ditolak. Ritme bekerja, dan fleksibilitas waktu pun dapat dengan udah diatur oleh mereka.

Tidak sedikit juga sistem Gig Economy dijadikan pekerjaan sampingan dari pekerja karyawan perusahaan. Meskipun menguras waktu dan energi, karena waktu yang digunakan di luar jam kantor, bahkan tidak jarang dikerjakan selama akhir pekan.

Tren Gig Economy

Tren  gig economy tentunya akan memunculkan on-demand workers atau pekerja yang “mau bekerja” saat butuh dan dibutuhkan saja. Bahkan ya Sobat UKM, Majalah Forbes melansir data yang menyebutkan di tahun 2030 nanti, generasi millennials tidak akan betah bekerja dengan model 9 to 5 seperti yang tengah kita nikmati saat ini. Tak ayal, sejak sekarang, bermunculan platform mobile yang menawarkan jasa on-demand workers.

Keuntungan menggunakan on-demand workers bagi perusahaan dan pekerja adalah kemampuan mengontrol waktu dan tempat kerja. Perusahaan akan leluasa menunjuk staf yang direkrut untuk menangani proyek atau pekerjaan tertentu, dan pada saat tertentu. Jadi tidak akan terikat seperti status karyawan perusahaan, bukan?

Salah satu perusahaan startup yang menawarkan jasa on-demand workers adalah Helpster. Startup yang baru saja mendapat suntikan dana awal sebesar Rp 28 miliar dari konsorsium modal ventura Convergence Ventures dan WaveMaker Partners ini tengah mencoba peruntungan di pasar dalam negeri.

Dalam keterangan resminya yang dikutip melalui CNN Indonesia, Founder & CEO Helspter Mather Ward mengatakan, di Asia Tenggara, terdapat 100 juta pekerja yang berkecimpung di sektor jasa. “Kebanyakan masih menggunakan metode tradisional dari mulut ke mulut untuk mencari peluang kerja baru,” ujarnya.

Startup yang berasal dari Thailand tersebut berdiri sejak April 2016 ini menyasar perusahaan logistik, event organizer, dan food & beverage yang sering kali membutuhkan tenaga kerja freelance pada dalam periode waktu tertentu. Tentunya platfom ini akan bersaing dengan startup Indonesia yang lebih dulu lahir, seperti Seekmi, Sejasa, dan Beres.

Nah, Sobat UKM bagaimana pendapatnya?

Apakah dengan sistem gig economy, Anda ingin memiliki pekerja yang tak terikat dan hanya bekerja ketika sedang mengerjakan project saja? Atau justru sistem seperti ini sudah lama Anda jalani dan memang membuahkan hasil? Yuk, sharing sama kita apa saja sih kelebihan dan kekurangan menganut gig economy! (IRL)

Share With:
Rate This Article