Solusiukm
Bisnis

Clarks yang Terkenal Bangkrut di Sini. Pelajari Agar Bisnis Kalian Tidak Bangkrut!

Di tahun 2018, di prediksi ada sekitar 50 retail offline yang akan tutup di Indonesia. Clarks retail merek sepatu asal Inggris menutup seluruh gerainya di Indonesia. Clarks di Indonesia memiliki sekitar 10 gerai yang tersebar. Informasi penutupan gerai Clarks didapatkan sekitar seminggu lalu melalui akun resmi Instagram Clarks.

Penutupan gerai Clarks tentunya membuat para konsumen Clarks yang ada di Indonesia kecewa. Sebab, konsumen Clarks adalah konsumen yang loyal terhadap produk sepatu asal negeri Ratu Elizabeth tersebut. Pihak Clarks mengakui mereka akan mulai menutup seluruh gerai pada 28 Februari 2018.

Tutupnya toko retail yang sudah lama beroperasi di Indonesia membuat para pelaku retail merasa takut untuk menghadapi tahun 2018. Karena prediksi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebut para pemilik retail akan merubah format bisnis dan melakukan relokasi.

Clarks yang sudah beroperasi di Indonesia sejak 2004 dibawah payung PT Anglo Distrindo Antara saat ini sedang menghabiskan seluruh produk yang tersisa di retail, mereka melakukan diskon besar-besaran di seluruh gerai yang ada. Bahkan diskon yang diberikan mencapai 80%. Seperti salah satu jenis sepatu, harga awalnya Rp 2,5 juta kini dibanderol hanya Rp 700 ribu.

Hal ini membuat para konsumen setia Clarks datang berbondong-bondong dan membeli semua produk Clarks yang masih tersisa. Bahkan ada seorang konsumen yang harus merogoh kocek hingga Rp 6 juta untuk membeli produk Clarks yang ia inginkan di store.

Dari 25 Gerai, Kini Tinggal 10

Sejak beroperasi dari 2004, bisnis sepatu Clarks memang cukup intens dalam berekspansi. Bahkan hingga 2016 Clarks memiliki sekitar 25 gerai retail diseluruh Indonesia. Namun, dipertengahan tahun 2017, Clarks harus mengelus dada, sebab mereka harus menutup 15 retail yang ada di Indonesia.

“Sebelum pertengahan 2017 kita memiliki 25 butik. Setelah pertengahan 2017 kesini kita mengalami penurunan dan mulai tutup. Yang masih ada sekarang 10 butik,” ungkap pihak manajemen PT Anglo Distrindo Antara, Rubby Destrison seperti yang dikutip dari Detik.com.

10 toko yang tersisa hanya tinggal menunggu waktu. Mereka akan hengkang dari Indonesia pada 28 Februari 2018. Namun, beberapa retail Clarks masih terikat sewa dengan pihak mall. Mereka segera menutup gerainya setelah habis kontrak.

Bahkan pihak PT Anglo sedang meminta pihak mall untuk memberikan early termination. Kontrak dihentikan sebelum masa sewanya habis. Di Bulan Januari terdapat 5 retail Clarks yang tutup yakni di Center Point Medan, Neo Soho Jakarta, Mal Taman Anggrek Jakarta, Kota Casablanca Jakarta, dan Kuningan City Jakarta.

Di bulan Februari menyusul empat toko retail yakni Paris Van Java Bandung, Tunjungan Plaza Surabaya, AEON Mall Tangerang, dan Lotte Shopping Avenue Jakarta. Sementara satu toko di Grand Indonesia akan ada tiga toko Clarks yang tutup yakni di Grand Indonesia, Senayan City, dan Kelapa Gading.

Penjualan Sepatu Menurun

Distributor Clark menutup retailnya yang ada di Indonesia disebabkan oleh penurunan jumlah pembeli sepatu Clarks. Bahkan penurunan penjualan mencapai 50 %. Sejak akhir 2015 hingga 2017 penjualan Clarks selalu menurun.

Padahal di tahun 2014, Clarks mengakui masih bisa menjual sekitar 80 ribu pasang sepatu. Di tahun 2015 turun, dan puncaknya pada 2016 turun hingga 50%. “Kami terpaksa genjot penjualan dengan promo,” ungkap Rubby seperti yang dikutip dari Cnnindonesia.com.

Sudah penjualan turun, biaya operasional pun meningkat. Hal ini membuat Clarks harus memilih untuk menutup seluruh gerainya. Seperti harga sewa tenant di mall-mall semakin mahal, dan menggaji para karyawan. Membuat perusahaan semakin rugi. Penutupan 25 gerai menjadi sisa 10 gerai tidak bisa juga membantu efisiensi bagi perusahaan.

Terlebih hingga saat ini PT Anglo hanya memegang satu lisensi produk saja yakni Clarks. Membuat perusahaan tidak bisa melakukan subsidi silang dari merek yang penjualannya besar dengan merek yang penjualannya sangat kecil.

Selain itu, kontrak sewa PT Anglo Distirindo Antara dengan pihak Clarks di Inggris pun habis pada tahun ini, dan kontrak tersebut tidak diperpanjang karena penjualan sepatu Clarks di Indonesia semakin menurun.

Daya Beli Jadi Penyebab

Penurunan penjualan sepatu Clarks dua tahun kebelakang, karena menurunnya daya beli masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Rubby, anjloknya penjualan Clarks disebabkan daya beli masyarakat yang menurun beberapa tahun terakhir.

Padahal, mereka sudah mengikuti tren belanja masyarakat dari offline ke online. Namun hal itu tidak juga mendorong meningkatnya penjualan Clarks di Indonesia. “Ada yang bilang bukan daya beli melemah, tetapi peralihan belanja masyarakat dari offline ke online. Kenyataannya, daya beli memang melemah. Masyarakat menahan uang untuk belanja,” kata Rubby.

Tutupnya retail Clarks menambah daftar retail-retail offline yang tutup di Indonesia. Sebelumnya Sevel, Lotus, dan Debenhams sudah duluan menutup gerai-gerai mereka dan memilih hengkang dari Indonesia. Miris memang melihat retail-retail yang awalnya menjadi raja di Indonesia, kini mereka hanya tinggal kenangan saja.

Yuk baca tips lainnya agar bisnis tidak bangkrut seperti Clarks! Banyak sekali E-book GRATIS di MEMBERSHIP CUMA – CUMA Solusi UKM, lho! Soal marketing, soal berbisnis pada ranah E – commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan tips – tips lengkap lainnya. Kapan lagi, kan, dapet semua ilmu bisnis UKM secara cuma – cuma? Yuk, langsung daftar dengan klik banner di bawah:

Artikel Terkait

KABAR GEMBIRA: Ada Bantuan Pemerintah untuk UKM Ambruk Karena Pandemi!

marsha

Intip Rahasia Sukses Kedai Kopi Kulo

marsha

5 Masalah UMKM di Indonesia yang Belum Terselesaikan

marsha