Solusiukm
Bisnis

Omzet WARBYASA GOKIL Dari Bisnis Vapor (Jangan Pingsan, ya!)

Bagi Anda pelaku bisnis Indonesia yang memperhatikan bahwa bisnis Vape atau Vapor atau rokok elektrik beserta penggunanya semakin ramai pengguna, tentunya membuat Anda bertanya-tanya, berapa sesungguhnya omzet yang mampu dihasilkan oleh bisnis tersebut?

SolusiUKM mencatat, bahwa bisnis rokok elektrik tersebut masuk Indonesia pada sekitar tahun 2013 dan hingga tahun 2014 ramai diminati sehingga ramai dan mengalami kenaikan permintaan. Memasuki tahun 2015, bisnis ini mengalami penurunan yang cukup drastis diakibatkan berita negatif yang sempat menyebar mengenai dampak negatif dari vapor tersebut.

Hal ini pula yang terjadi pada salah satu toko Vapor terbesar yang berlokasi di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan, yang bernama Jakarta Vapor Shop (JVS). JVS yang memiliki etalase toko tersebut memajang berbagai macam device (peralatan vapor) dan liquid (cairan isi ulang vapor). Saat awal berdiri, Budiyanto, yang merupakan pemilik dari JVS tersebut masih berupa toko online dan tengah melayani permintaan pasar yang besar terhadap tren baru vapor. Sebelum booming hingga saat ini, bisnis vapor sempat mengalami penurunan akibat berita miring yang menyebar.

Lalu, Saat Sekarang Vapor Banyak Dicari Masyarakat, Berapa Sih Omzet Yang Mampu Dihasilkan Oleh Bisnis Tersebut?

Salah satu pemain besar bisnis Vapor di Indonesia tersebut menyatakan, perkembangan bisnis vapor dapat dibilang menjanjikan. Sebagai contoh, bahwa penjualan di Jakarta Vapor Shop (JVS) dapat menjual 30-40 liquid, plus 5-10 device setiap harinya.

JVS memang menjual liquid dengan harga pasaran berkisar antara Rp90 ribu-Rp300 ribu. Varian lokal sebagai unggulan berkisar Rp150 ribu. Tentunya JVS menjual varian liquid lain yang berasal US, Malaysia dan lokal. Sedangkan untuk device, produk unggulan masih dipegang oleh merek Cina dengan harga berkisar Rp300 ribu hingga Rp2 juta, sementara produk Amerika dibandrol dengan harga lebih dari Rp1 juta.

Jika melakukan perhitungan kasar dari liquid dan device yang terjual, dengan asumsi liquid lokal dan device Cina yang paling laku, maka setiap harinya JVS mampu memperoleh omzet dari liquid sebanyak Rp4,5 juta-Rp6 juta dan dari device sebanyak Rp1,5 juta-Rp3 juta. Total omzet yang didapat pun sebanyak Rp6 juta-Rp9 juta setiap hari.

 

Menurut Budiyanto, kini vapor tak hanya sebagai pengganti rokok konvensional, namun telah mulai bergeser pula menjadi tren dan gaya hidup penduduk urban. Banyak orang-orang yang beralih ke vapor lantaran alat ini dianggap lebih “berkelas” dibandingkan rokok konvensional. Terlebih lagi untuk mendapatkannya, setidaknya seseorang perlu merogok kocek awal sebesar Rp300 ribu untuk device dan Rp150 ribu untuk liquid yang rata-rata habis setiap tiga hari. Selain itu, setiap minggunya, pengguna vapor diwajibkan mengganti koil device yang harganya berkisar Rp40 ribu-Rp50 ribu.

“Tak hanya sebagai tren, rata-rata orang beralih ke vapor karena telah menemukan cita rasa yang pas. Sebab varian rasanya juga banyak. Tapi orang Indonesia lebih suka varian lokal yang manis dan cream-nya middle, seperti strawberi, coklat,susu, jeruk dan mangga,” jelas Budiyanto sebagai pemilik dari Jakarta Vapor Shop (JVS), salah satu toko vapor terbesar Indonesia.

Jadi, sudah jelas, selain faktor kesehatan, banyak pengguna vapor yang membeli dengan alasan tren dan kebutuhan gengsi yang tentunya merogoh kocek cukup dalam. Mengapa Anda sebagai pelaku bisnis tidak memanfaatkan peluang ini? Tentunya sayang jika dilewatkan, bukan? 🙂

 

Artikel Terkait

6 Kiat Mempertahankan Omzet dan Penjualan Pasca Lebaran

Iskandar Rumi

Satu-satunya Solusi UKM Agar Selamat Saat Corona

admin

Kunci Hits Kopi Janji Jiwa

marsha