a

Setelah Giant Tutup, Gimana Nasib Retail Kecil Di Indonesia?

Nasib retail Indonesia berada di ujung tanduk. Baru-baru ini, supermarket terbesar di Indonesia Giant mengumumkan akan menutup enam toko fisiknya. Kabar ini cukup menghebohkan. Dua tahun terakhir, cukup banyak retail modern yang harus hengkang atau gulung tikar. Lalu bagaimana dengan nasib retail kecil di Indonesia masihkah mereka dapat bersaing?

Sebelum Giant tutup, ada beberapa retail yang sudah menutup tokonya. Seperti Centro, 7-Eleven, Lotus, Debenhams, Central, dan kakak dari Giant Hero.

Setiap retail-retail besar tutup, selalu menjadi perbincangan hangat bagi pengamat ekonomi maupun bagi para pelaku ekonomi di Indonesia. Lalu bagaimana dengan nasib retail-retail kecil yang harus bersaing dengan minimarket-minimarket modern lainnya.

Nasib Retail Kecil

Hampir semua media selalu melihat dampak dari retail-retail modern yang berguguran. Dengan berbagai dampaknya, seperti nasib para karyawannya yang harus kehilangan pekerjaan. Memang itu menjadi concern banyak pihak, bagaimana nasib mereka kedepannya serta akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia.

Tetapi dibalik bergugurannya retail-retail besar, bukan berarti ritel kecil tidak ada yang berguguran. Mungkin cukup banyak ritel kecil berguguran. Namun tidak terekspose layaknya retail-retail besar yang berguguran.

Terlihat jika kita berjalan-jalan ke beberapa Mall di Jakarta yang dahulu menjadi tempat belanja favorit, kini hidup segan mati tak mau. Mall tersebut tampak sepi dan tidak ada pengunjungnya. Pada akhirnya, pemilik toko di Mall tersebut harus menutup toko mereka.

Hal ini mungkin tidak menjadi concern Pemerintah dibandingkan jika ada toko retail besar yang menutup gerai mereka. Padahal, dengan memperhatikan retail-retail kecil menjadi salah satu tugas pemerintah agar retail kecil itu bisa bertahan dan bisa bersaing dengan retail modern di sekitar mereka.

Pola Belanja Berubah

Salah satu penyebab tutupnya retail Giant adalah persaingan bisnis. Bayangkan, Giant merupakan brand besar yang memiliki toko di kota-kota besar hampir seluruh Indonesia harus menutup storenya karena kalah dalam persaingan dan pola belanja yang berubah.

Kita menyaksikan, mungkin sebagian dari Anda sudah malas keluar rumah untuk membeli belanja. Bahkan untuk membeli makanan pun, lebih memilih menggunakan jasa ojek online dibandingkan pergi mencari sendiri. Terlebih bagi masyarakat perkotaan.

Dulu, orang-orang mau belanja harus pergi ke mall dan department store. Melihat-lihat segala kebutuhan yang ingin di beli. Tetapi beberapa tahun belakangan semua berubah secara drastis. Banyak orang yang malas keluar dari tempat tinggal hanya untuk sekedar belanja saja. Begitu juga Anda bukan?

Bagaimana Retail Kecil Tetap Bertahan?

Jika banyak pakar yang mengatakan, jika tidak mau ketinggalan zaman, para pelaku retail harus mengikuti zaman. Namun dibalik itu semua ada hal-hal lain yang harus dipahami untuk membawa para pelaku retail kecil melek teknologi. Namun tidak mudah untuk edukasi para pelaku retail paham teknologi.

Sebagian besar pelaku retail saat ini merupakan generasi Babyboomers dan generasi X yang tidak peduli terhadap perkembangan teknologi. Bahkan untuk menggunakan teknologi saja, mereka cukup sulit dan harus diajari secara berulang-ulang. Dan tidak cepat. Disinilah harusnya pemerintah bisa memberikan pelatihan secara rutin kepada para pelaku bisnis untuk memanfaatkan teknologi dalam berbisnis.

Sebab mereka sangat membutuhkan itu, namun mereka tidak memiliki wadah untuk mempelajari teknologi. Jika mereka ikut pelatihan, biaya pelatihannya pun cukup tinggi. Ini menjadi salah satu alasan pelaku retail enggan mengikuti zaman.

Persaingan

Penyebab lain dari tutupnya gerai Giant di beberapa titik Jabodetabek, karena persaingan. Itu pun di amini oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Menurutnya selain pola belanja masyarakat, persaingan antar ritel juga mempengaruhi. Akhir-akhir ini semakin banyak ritel yang membuka usaha dekat dengan masyarakat dengan barang-barang yang lengkap.

“Di kita khususnya di Indonesia, ada fenomena yang namanya Indomart, Alfamart, itu memang mengubah konstalasi. Mesti ada yang tersingkir ya antar ritel,”jelasnya seperti dikutip dari Merdeka.com.

Jika retail besar seperti Giant saja bisa kalah bersaing dengan Indomart dan Alfamart, bagaimana nasib retail-retail kecil yang berada sangat dekat dengan Indomart dan Alfamart tersebut?

Jika kita turun ke lapangan, kita akan melihat bagaimana Indomart dan Alfamart cukup menganggu retail-retail kecil di sekitarnya. Apa lagi mereka memiliki modal yang kuat, teknologi terkini dan manajemen yang baik berada di bawah naungan korporasi.

Belum lagi, swalayan modern tersebut benar-benar masuk dan mendekat ke masyarakat. Sehingga menyulitkan retail-retail kecil untuk bersaing dengan mereka. Seharusnya ada regulasi yang melarang retail-retail modern atau besar ini masuk hingga ke desa, kampung, dan perumahan.

Sehingga para pelaku retail kecil di wilayah tersebut tidak merasa terganggu dan terancam dengan kehadiran swalayan modern itu. Mereka bisa bersaing dengan baik. Kita harus apresiasi pemerintah daerah yang membatasi bahkan tidak memperkenankan retail swalayan modern masuk ke kota mereka. Sehingga retail-retail kecil yang dikelola oleh masyarakat bisa lebih berkembang dan maju.

Jika persaingan yang menjadikan Giant yang memiliki toko cukup besar dan produk yang cukup lengkap tutup. Bukan tidak mungkin retail-retail kecil yang dikelilingi oleh toko-toko swalayan modern akan mengalami hal yang sama dengan Giant. Sehingga membuat ekonomi kecil akan mati.

Disini harus ada solusi ke depan yang bisa membantu retail kecil bisa bersaing dan tetap bertahan di tengah perubahan teknologi. Hingga tidak ada lagi retail kecil berjatuhan, namun mereka terus berkembang dan melek teknologi.

Share With:
Rate This Article